BREAKING NEWS

Minggu, 01 Maret 2015

Faktor Yang Mempengaruhi Pengomposan

Hal yang perlu diperhatiakn agar proses pengomposan dapat berlangsung lebih cepat :
1.  Nilai C/N bahan
Semakin rendah nilai C/N bahan, waktu yang diperlukan untuk pengomposan semakin singkat

2.  Ukuran bahan
Bahan yang berukuran lebih kecil akan lebih cepat proses pengomposan karena semakin luas bahan yang tersentuh dengan bahan bakteri. bahan organik perlu di cacah hingga ukuran kecil . B 5 cm. ahan yang keras sebaiknya di cacah hingga berukuran 0,5 - 1 cm , sedangkan bahan yang tidak eras dicacah dengan ukuran agak besar , sekitar 5 cm. Pencacahan bahan yang tidak keras sebaiknya tidak terlalu kecil  karena bahan yang terlalu  hancul ( banyak air ) kurang baik karena kelembapannya terlalu tinggi.

3.   Komposisi bahan
Pengomposan  dari beberapa macam bahan akan lebih baik dan cepat. Pengomosan bahan organik dari tanaman akan lebih cepat bila di tambah dengan kotoran hewan. Ada juga yang menmbah bahan makanan dari zat pertumbuhan yang dibutuhkan meikroorganisme. dengan demikian, mikroorganisme juga akan mendapatkan bahan makanan lain selain dari bahan organik.

4.   Kelembapan mikroorganisme
Dalam proses pengomposan , yang akan berperan adalah bakteri , fungsi. Actiomycetes dan protozoa. Selain itu harus sering ditambahkan pula mikroorganisme ke dalam bahan yang akan dikomposkan. Dengan bertambahnya jumlah mikroorganisme diharapkan  proses pengomposan akan lebih cepat.

5.  Kelembapan dan aerasi
Pada umumnya mikroorganisme dapat bekerja dengan kelembapan sekitar 40-60%. Kondisi tersebut perlu dijaga agar mikroorganisme dapat bekerja secara optimal. Kelembapan yang lebih rendah atau lebih tinggi dapat menyebabkan mikroorganisme tidak berkembang atau mati. 

6.  Suhu
Suhu optimal untuk pengomposan sekitar 30-50% . Suhuh yang terlalu tinggi akan mengakibatkan kematian organisme. Bila suhu relatif rendah, mikroorganisme belum dapat bekerja atau berada dalam keadaan dorman. Aktivitas mikroorganisme dalam proses pengomposan tersebut menghasilkan panas sehingga untuk menjaga suhu tetap optimal sering dilakukan pembalikan. Namun , ada mikroba yang  bekerja pada suhu yang relatif tinggi , yaitu 80 derajat celcius.

7.   Keasaman ( pH)
Proses pengomposan dapat dipercapat dengan bantuan aktivator . beberapa aktivator tersedia dipasaran Orgadec,Stardec,EMA,FIX Up Plus. Proses pengomposan juga dapat melibatkan hewan lain seperti cacing tanah yang bekerja sama dengan mikroba dalam proses penguraian. Dalam hal ini cacing memakan bahan yang tidak terurai, mencampur bahan  organik dan membuat rongga udara sebagai aerasi. Kehadiran caning tanah  dapat mempercepat  pengancuran bahan organik oleh mikroorganisme. Penguraian mikroorganisme disebut pengomposan atau compotiing, sedangkan keterlibatan cacing dalam proses pengomposan disebut Vermicomposting dan hasil disebut casting atau kascing.



Yovita Hrety Indriani " Membuat kompos secara kilat"




Prinsip Pengomposan

      Bahan organik tidak langsung digunakan atau dimanfaatkan oeh tanman karena perbandingan C/N dalam bahan tersebut relatif tingi atau tidak sama dengan C/N tanah . Nilai C/N merupakan hasil perbandngan antara karbohidrat dan nitrogen. Nilai C/N tanah sekitar 10-12. Apabila bahan organik mempunyai kandungan C/N mendekati atau sama dengan C/N tanah, bahan tersebut dapat digunakan atau diserap tanaman. Namun , umumya bahan organik yang segar mempunyai C/N yang tinggi, seperti jerami padi             ( 50-70 ) , daun daunan ( > 50 , tergantung jenisnya ) cabang tanaman ( 15-60 tergantung jenisnya ) dan kayu yang telah tua ( bisa mencapai 400).
Berikut perubahan yang terjadi dalam pengomposan .
  1. Karbohidrat, selulosa, lemak, serta lilin menjadi CO dan zat air
  2. Zat putih telur menjadi amonia CO dan air
  3. Senyawa organik menjadi senyawa yang dapat di serap dengan cara terurai
Pengomposan atau dekomposisi merupakan peruaian dan pemantapan bahan bahan organik secara biologi dalam suhu tinggi dengan hasil akhir bahan yang cukup baik untuk digunakan ke tanah tanpa merugikan lingkungan. Proses termoflik terjadi karena  kelembapan dan suasana aerasi  yang tertentu. Setelah suhu tercapai mikroorganisme dapat aktif mengurai bahan organik menjadi komposisi yang lebih sederhana.
Pengomposan dapat terjadi dalam kondisi aerobik dan anaerobik. Pengomposan yang terjadi dalam keadaan dengan O2, sedangkan pengomposan anaerobik tanpa O2 , dalam proses pengomposan aerobik akan dihasilkan CO2, air dan panas . Sementara itu dalam pengomposan anaerobik akan dihasilkan metana ( alkoohol ), CO dan senyawa antara seperti asam organik. Dalam proses pengomposan organik, sering menimbulkan bau yang tajam sehinga tehnologi pengomposan banyak ditempuh dengan cara anaerobik.
Kondisi perlu dijaga adalah Kadar air, aerasi dan suhu .

1.    Kadar Air
Kadar air harus dibuat dan dipertahankan sekitar 60 % . kaadar air yang kurang dari 60 % menyebakan bakteri tidak berfungsi, sedangkan bila lebih dari 60 % akan menyebabkab kondisi anaerob. Kadar air dapat diukur dengan cara yang mudah, yaitu dengan meremas bahan . kadar air 60 % dicirikan dengan bahan yang terasa basah bila diremas, tetapi air tidak menetes

2.   Aerasi
Padda dekomposisi aerob, oksigen harus cukup tersedia di dalam tumpukan. Apabila kekurangan oksigen, proses dekomposisi tidak dapat berjalan. Agar tidak kekurangan oksigen, tumpukan kompos harus dibalik minimal seminggu seklai . Selain itu, dapar juga dilakukan dengan cara Force aeration, yaitu menghembuskan udara memakai kompresor. Bisa juga dengan efek cerobong yaitu memasukkan udara melalui cerobong. Namub, pemberian aerasi yang terbaik adalah pembalikan bahan. Perlakuan ini seklaigus untuk homogenisasi bahan.

3.  Suhu
Selama proses dekomposisi, Suhu dijaga sekitar 60 % selam 3 minggu. Pada suhu tersebut,selain bakteri bekerja secara optimal , akan terjadi penurunan C/N ratio dan pembrantasan bakteri patogen maupun bijji gulma



Yovita Hety Indriani " membuat kompos secara kilat "


 
Copyright © 2014 Serba Serbi Shared By by Themes24x7.